Tafsir Ayat Kebangsaan Brilly El-Rasheed #10

10 - QS. Ali ‘Imran (4): 110
Allah Al-Jalil berfirman,
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasiq.” [QS. An-Nisa` (4): 110]
Ketika menafsirkan ayat ini, Ibnu Jarir At-Thabari menghimpun paling tidak dua pendapat mengenai siapa yang dimaksud dengan umat. Pendapat pertama menerangkan bahwa yang dimaksud dengan umat adalah orang-orang yang hijrah bersama Nabi dari Makkah ke Madinah (muhajirin). Keterangan ini didapat dari jalur riwayat Ibnu Abbas dari Sa’id bin Jubair, As-Suddi, dan Ikrimah. Pendapat kedua berasal dari riwayat Abu Hurairah dan Mujahid mengatakan bahwa umat yang dimaksud ayat adalah siapa pun yang memenuhi tiga kriteria utama: a) amar makruf, b) nahi munkar, dan c) beriman kepada Allah Swt sebagaimana disebutkan di dalam ayat.
Syekh ‘Ali Ash-Shabuni dalam Shafwat At-Tafasir menjelaskan, predikat umat terbaik diperoleh, karena umat Nabi Muhammad merupakan manusia yang paling bermanfaat pada manusia (anfa’u an-nas li an-nas). Umat ini muncul dengan membawa orientasi kemanusiaan dan untuk kemaslahatan manusia. Syaratnya, umat Nabi Muhammad menjalankan tiga ciri umat terbaik yang disebutkan ayat ini, yaitu amar ma’ruf, nahi munkar, dan beriman pada Allah. Sayyidina Umar bin Al-Khaththab diriwayatkan pernah berkhutbah tentang ayat ini, “Barang siapa yang senang dirinya menjadi seperti umat tersebut, maka penuhilah syarat yang Allah tentukan dalam ayat itu.” [Tafsir Ath-Thabari, 7/102]
Maka, bangsa yang terbaik adalah bangsa yang melestarikan kema’rufan, sesuatu yang secara konsensus sosial dipandang baik dan tidak bertentangan dengan Syari’at. Bangsa yang menjunjung tinggi etika dan moral adalah bangsa yang terbaik.