Tafsir Ayat Kebangsaan Brilly El-Rasheed #12

12 - QS. Al-Maidah (5): 48
Allah Al-Jawwad berfirman,
لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
“Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.” [QS. Al-Ma`idah (5): 48]
Makarim Asy-Syairazi menerangkan bahwa bagi masing-masing, Allah berikan aturan dan jalan yang terang. Kemudian Allah tidak menjadikan manusia menjadi umat yang satu, karena manusia memiliki potensi untuk memilih beragam jalan menuju Allah. Lalu, diperintahkan untuk berlomba dalam kebaikan. Karena tolok ukur kemanusiaan adalah bagaimana ia melakukan kebajikan dan kebaikan. [Tafsir Al-Amtsal, 4/27]
Quraish Shihab juga menegaskan bahwa kata “law/sekiranya” dalam firman-Nya (law syaallah), yang artinya “sekiranya Allah menghendaki”. Ini menunjukkan kemustahilan bahwa Allah menjadikan manusia satu pendapat, satu kecenderungan, dan satu keyakinan. Dimaksudkan agar manusia bebas memilah dan memilih, termasuk memilih keyakinan dan agama. Kebebasan memilah dan memilih itu dimaksudkan agar manusia dapat berlomba-lomba dalam kebajikan, dan dengan demikian akan terjadi kreativitas dan peningkatan kualitas, karena hanya dengan perbedaan dan perlombaan yang sehat, kedua hal itu akan tercapai. [Tafsir Al-Misbah, 3/115-116]