Tafsir Ayat-ayat Wasathiyyah #1

QS. Al-Baqarah (2): 143
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا.
“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kalian (umat Islam) sebagai umat pertengahan agar kalian bisa menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian.” [QS. Al-Baqarah (2): 143]
Dari ayat ini, kita menjadi tahu bahwa Allah menjadikan Islam berkarakter pertengahan (bainiyyah) sehingga pemeluknya pun seharusnya begitu. Pertengahan adalah pilar Wasathiyyah yang pertama. Konteks ayat ini adalah orang-orang yang hidup pada masa Rasulullah yang mengalami dan menyaksikan turunnya Wahyu perubahan qiblat.
Tafsir Ash-Shaghir karya Syaikh Fayiz bin Sayyaf As-Sariih, dimuraja’ah oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdul-’Aziz Al-‘Awaji, professor tafsir Univ Islam Madinah, memberikan kontribusi interpretasi, “Demikian pula Kami telah menjadikan kalian umat pertengahan} yang adil dan pilihan {agar kalian menjadi saksi atas manusia dan agar Rasul (nabi Muhammad) menjadi saksi atas kalian. Kami tidak menetapkan kiblat yang dahulu kalian berkiblat kepadanya, kecuali agar Kami mengetahui siapa saja yang mengikuti Rasul dan siapa saja yang berbalik ke belakang} menolak agamanya {Sesungguhnya itu} Sesunggugnya perkara mengubah arah kiblat itu {sangat besar} sangat berat dan sulit {kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kalian} membatalkan pahala shalat kalian yang menghadap Baitul Maqdis {Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.”
Dari ayat ini kita dapat mengkristalisasi karakter Wasathiyyah adalah mensyukuri taqdir sebagai umat Nabi Muhammad dengan jalan mematuhi aturan Islam sehingga dengan itu menjadi umat yang wasath. Siapapun person yang memprioritaskan selain agama Islam sebagai pedoman hidup maka akan hilang karakter wasathiyyah padanya.